Siang
ini (8 Juli 2014), pihak Bank survey ke rumah terkait pinjaman yang Jumat lalu
sudah di apply persyaratannya. Pagi tadi, aku sudah meminta ayah untuk melihat Price List cicilan jika Pinjamannya 50 juta.
Awalnya, aku & ayah berniat meminjam hanya 15-20Juta saya. Itu pun untuk
membayar keuntungan PO Hp seperti ceritaku sebelumnya sebesar 6,3juta, untuk
bayar hutang 2juta ke Bu'le ku karena dulu pinjam untuk bayar kosan, untuk
bayar kosan Bulan September, untuk bayar kuliah, bayar KKN dan kebutuhan lain
(baca disini). Tadi malam (7 Juli 2014)
ketika aku membuka Fb Jualanku dan banyak sekali inbox dari customer yang menyatakan bahwa mereka meminta
uang mereka full, bukan hanya keuntungan yang aku peroleh. Padahal uang selain
dari keuntunganku memang belum di kembalikan oleh supplierku, seperti ceritaku disini. Ayah sudah setuju untuk
mencoba meminjam 50juta untuk mengganti seluruh uang customerku, itu pun jika memang
cicilannya tidak terlalu besar. Mengingat memang pekerjaan ayah yang tidak
tetap dan pemasukan dari OS aku sedang menurun.
Sekitar
jam 12.30 WIB tadi, ayah menelpon dan memberitahukan bahwa orang Bank sudah
datang dan bunga pinjaman adalah 19,xx %. Padadahl sebelum apply, aku & ayah sudah
melihat di web Bank tersebut bahwa bunga adalah 14,25%. Akhirnya aku bilang ke
ayah untuk jangan meminjam dulu karena bunganya sangat besar, sedangkan di BTN
adalah 13,5%. Ayah kemudian memintaku untuk mem-foto info di web Mandiri dan
mengirimkan MMS ke pihak survey. Saat ayah belum kunjung mengirimkan nomor Hp
orang tersebut, akhirnya aku menelpon ayahku. Mungkin hati aku sudah sangat
tertekan, akhirnya aku tumpahkan seluruh beban di hatiku. Aku menangis
terisak-isak sambil menelpon ayah, aku meminta maaf dengan ayah, aku sungguh
merepotkan dia. Bahkan saat menulis tulisan ini pun, air mata terus membasahi
wajahku. Walaupun aku tahu bahwa menangis merupakan hal yang makruh ketika
berpuasa, tapi ya sudahlah. Aku sudah sangat tertekan dan kefikiran dengan
semua ini. Aku bahkan menangis sambil sulit bicara dengan ayah, aku benar-benar
menangis histeris. Sekilas percakapanku dengan ayah :
Aku
: (Menangis terisak-isak)
Ayah
: "Udah. Udah jangan nangis gitu. Udah. Kamu harus kuat, ga boleh nangis.
Usaha gagal itu biasa. Udah jangan nangis terus".
Aku
: "Maafin Aku, yah" (sambil terus menangis)
Ayah
: "Udah gapapa, sama ayahnya sendiri juga. Udah ga usah nangis. Kamu tuh
harus kuat. Nanti kalau memang cicilannya besar banget (jika pinjem 50juta),
ayah suruh orang Pisangan buat jual rumah. Jadi rumah ini tetap aman. Mau pasti
ko mau mereka jual rumah disana".
Aku
: "Maafin Aku, yah jadi ngerepotin ayah begini" (sambil masih
menangis)
Ayah
: "Engga. Siapa bilang ngerepotin ? Udah sekarang kamu fokus kuliah aja.
Udah, ini jangan di fikirin. Nanti kalaupun baru bisa pinjam untuk mengganti
uang keuntungan, ya ganti dulu aja uang keuntungannya dan bilang sisanya
menyusul. Tunggu dari pihak supplier untuk mengganti. Udah stop, jangan nangis.
Fokus aja. Jangan mikirin macem-macem dulu".
Aku
: "Ya tapi maaf yah" (sambil masih menangis)
Ayah
: "Kamu usaha kan buat ayah, buat kita. Jadi ga usah ngerasa salah begitu.
Ayah yang minta maaf karena harus bebanin kamu buat kebutuhan kita. Udah
berhenti nangisnya. Kamu harus kuat. Ini cobaan. Yang terpenting sekarang
banyak berdoa aja".
Aku
: "Iya Aku udah mohon-mohon kesana untuk kembaliin secepatnya yang sisanya
itu. Tapi katanya ga bisa karena sedang di proses oleh kuasa hukumnya"
(masih terisak)
Ayah
: "Ya udah, yang penting terus usaha buat minta kesana. Banyakin shalat
dan berdoa juga. Ini cobaan nduk, kamu harus kuat, ga boleh nangis. Kamu lagi
UAS juga kan ? Udah sekarang kamu fokus aja. Biar ini ayah yang cari jalan
keluarnya. Kalau emang mau jual rumah Pisangan karena emang ga ada jalan lain,
ayah bakal nyuruh orang disana buat jual".
Aku
: "Iya yah. Maafin Aku ya yah" (masih terisak)
Ayah
: "Ya udah sekarang tenangin diri kamu dulu. Udah, berhenti nangisnya.
Kuat. Kuat pokoknya. Harus kuat. Anak ayah ga boleh nangis".
Ya
kira-kira begitu percakapan aku dan ayah. Aku bukan tipe orang yang bisa cuek
dan mengabaikan omongan orang-orang itu. Aku adalah tipe orang yang mudah
kefikiran dan sensitif. Tapi kata Dien, sahabatku dari SD, aku harus
tebel-tebelin kuping untuk sementara ini karena aku memang sedang UAS, agar aku
bisa lebih fokus. Alhamdulillah juga, ada beberapa pembaca blog ku ini yang
mengirim inbox dukungannya. Aku berterima kasih sekali kepada semua yang masih
"mau" peduli dan mendoakanku. Tadi malam aku sudah melaksanakan
Shalat Taubat & Hajat sesuai yang di anjurkan oleh Pak Haji. Bismillah,
semoga pihak supplier segera mengembalikan uang-uang itu dan semoga ayah tak
perlu pinjam dari Bank karena aku takut kenapa-kenapa ke depannya kalau pinjam
dari Bank. Hati kecilku masih ingin pinjam ke saudara saja, tetap dengan jaminan
surat rumah. Tapi ayahku ga enak kalau ke saudara-saudaraku karena salah satu
faktor memang karena ibu sudah ga ada. Sekedar info, rumah Pisangan itu adalah
rumah warisan dari orang tua ayah. Rumahnya memang seperti girik tapi harganya
jauh lebih mahal dibanding rumahku sekarang, walaupun rumahku jauh lebih besar
dan rapi dibandingkan rumah Pisangan. Soalnya lokasi disana termasuk lokasi
mahal, maka rumah kecilpun dapat dihargai mahal. Sekarang rumah itu di tempati
oleh kakak, adik dan kakak ipar ayah.
Ya
Allah, aku memohon kepadaku dengan segala kerendahan hati dan diriku. Aku mohon
bantulah Hamba agar masalah ini cepat selesai dan fokuskanlah fikiranku hanya
untuk urusan kuliah ya Allah. Aku merasa otakku semakin sulit berfikir dan
mengingat sejak ibu ga ada. Aku tahu, engkau sangat mengetahui apa yang aku
rasakan dan fikirkan sekarang. Tak banyak yang dapat aku ungkapkan dalam
tulisan ini, aku hanya memohon kepadamu untuk mempermudah dan menyelesaikan
masalah ini. Karena aku yakin, tak ada cobaan yang tak ada solusinya.
*Sekedar
Intermezo*
Semalam
aku bermimpi, seperti sangat nyata sekali. Om Argo datang ke rumah dan mencari
ibu. Ketika aku meceritakan bahwa ibu sudah meninggal, Om Argo tidak percaya.
Kemudian terjadilah percakapan antara aku dan Om Argo hingga akhirnya Om Argo
memberikan aku uang yang sangat banyak untuk mengganti uang-uang PO Hp dan
untuk menebus surat rumah yang sudah di Bank. Jika memang itu terjadi, aku
sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Allah. Jika memang hanya mimpi saja,
semoga suatu saat bisa menjadi kenyataan dan bukan sekedar bunga tidur. Om Argo
itu adalah mantan pacar almh ibuku. Mereka pisah karena berbeda keyakinan (dia
orang Bali jadi beragama Hindu) dan karena kakak-kakak ibuku banyak yang tidak
menyetujui. Ibu terkadang masih suka bercerita tentang dia. Ibu pun sempat
mencari info dia juga tapi susah. Terakhir yang ibu tahu, dia kuliah di Udayana
Jurusan Arsitektur.
0 comments:
Post a Comment