Pagi
ini adalah tepat tanggal 22 Ramadhan 1435 H dan 7 hari lagi akan menuju 29
Ramadhan 1435 H. Iya 29 Ramadhan, tepat 2 tahun ibu pergi meninggalkanku
disini, sendirian. Sendiri dalam kesunyian dan sendiri dalam kekalutan. Aku
sekarang memang hanya dengan Ayah tapi kan Ayah di rumah, sedangkan aku disini,
di Semarang. Sudah beberapa hari terakhir ini, hampir tiap malam aku kembali
menurunkan hujan dari mata hingga membasahi seluruh pipiku. Aku kangen Ibu,
kangen banget. Sudah lama rasanya aku tidak menangis dan tidak menulis tentang
Ibu. Aku selalu berusaha untuk terus tetap terlihat kuat dan tegar di hadapan
mereka, terlebih di hadapan Ayah. Tapi pada kenyataannya ? Aku tak sekuat dan
setegar yang mereka lihat. Aku sangat rapuh, sungguh sangat rapuh.
Bukankah
pernah ku ceritakan dalam tulisan sebelumnya, aku berusaha sekuat hati untuk
tidak meneteskan air mata ketika memandikan jenazah Ibu, ketika mengafani
jenazah Ibu dan ketika ikut melihat prosesi pemakaman Ibu. Iya, aku sama sekali
tidak menangis. Hatiku memang menangis. Aku memang menjerit sekeras mungkin
tapi hanya dalam hati. Hingga akhirnya ketika pulang memakamkan Ibu, air mata
pun akhirnya deras mengalir dan jeritan pun tak henti-hentinya meluap dari
mulutku. Sakit rasanya, ketika menahan semua pilu itu di hati. Ingin rasanya
saat itu aku keluarkan semua rasa sakitku, tapi aku tak bisa. Bahkan
orang-orang yang membantu memandikan dan mengafani Ibu pun heran melihat
tingkahku kala itu. Padahal sebelum jenazah Ibu sampai di rumah, tepatnya ketika
Bu'de ku mengabarkan kalau Ibu sudah meninggal dan ketika aku yang terus
berteriak dan menjerit meminta Ibu untuk bangun kembali di Rumah Sakit, sampai
semua orang dalam ruangan, datang ke kamar rawat Ibu hanya untuk mencari sosok
yang sedari tadi berteriak histeris meminta Ibu untuk bangun kembali. Saat itu
aku sungguh meluapkan semua perasaanku, semua tekanan dalam batinku, semua rasa
dan kenyataan pahit yang harus aku terima.
Tepat
hari Jum'at, tanggal 29 Ramadhan 1433 H atau 17 Agustus 2012, aku benar-benar
harus menerima semua kenyataan yang ada. Aku kehilangan Ibu, kehilangan
sebagian nyawaku, kehilangan kunci hidupku, kehilangan sahabat terbaikku dan
kehilangan sosok teristimewa dalam hidupku. Waktu aku ulang tahun (11 Agustus
2012), Ibu minta dibelikan Mukenah baru. Tapi sekitar 2 hari setelahnya saat
aku mengajak Ibu membeli Mukenah, Ibu ga mau, Ibu bilang "Ga usah deh Ti,
udah banyak juga kan Mukenah Ibu, nanti malah ga kepake kalau kebanyakan".
Mungkin itu memang feeling ibu, karena akhirnya dia meninggal saat 29 Ramadhan
atau H-2 Idul Fitri dan memang pada akhirnya dia tidak memakai Mukenah baru
tetapi memakai Kain Kafan yang sampai sekarang menjadi pakaian kekalnya.
Malam
ini, berhubung kosan sudah sangat sepi penghuni karena sudah banyak yang kembali
ke daerah asalnya, aku akhirnya kembali menangis dan berteriak histeris.
Berharap tidak akan ada yang terganggu dengan jerit tangisanku ini. Ibu, aku
kangen banget sama Ibu. Walaupun banyak yang bilang kalau Ibu Insya Allah sudah
tenang disana karena meninggal pada hari Jumat di bulan Ramadhan, di tambah
ratusan orang yang menyolatkan Ibu, tetapi tetap saja hati aku sampai sekarang
belum Ikhlas melepaskan Ibu. Aku kangen Ibu. Kangen bobo bareng sama Ibu,
kangen ngobrol sampai pagi sama Ibu, kangen ledek-ledekan sama Ibu, kangen
nyubitin Ibu, kangen ngata-nagatain Ibu Jelek, kangen kemana-mana sama Ibu,
kangen telponan sama Ibu sampai pagi kalau Aku lagi banyak tugas, kangen curhat
apapun sama Ibu, kangen di omelin Ibu, kangen nemenin Ibu cek Lab, Aku kangen
Bu, Aku kangen. Selama 2 tahun terakhir ini, Aku selalu terlihat kuat di
hadapan Ayah dan keluarga Ibu. Aku cuma ga mau terlihat lemah, seperti yang
Ayah sering bilang, kalau Anak Ayah ga boleh nangis, harus kuat, karena
menangis juga dapat di anggap lemah oleh orang lain. Aku selama ini hanya
berpura-pura kuat tapi hati dan fikiran Aku ga kuat Bu. Ibu bahkan pergi saat Aku
ga di samping Ibu, saat Aku sedang mendoakan Ibu di rumah. Ibu inget kan ? Ibu
netesin air mata waktu Aku nangis di depan Ibu, walaupun waktu itu kondisi Ibu
udah kritis. Ibu inget kan ? Ibu cengkram tangan Aku kenceng banget pas Ibu
dalam keadaan setengah sadar. Ibu inget kan ? Ibu masih main-mainin kancing
baju Aku waktu Ibu sudah mulai merasa bahwa hanya tangan kanan Ibu yang bisa di
gerakkan. Ibu inget kan ? Ibu main-mainin konde rambut Aku waktu Aku imamin Ibu
untuk Shalat. Ibu inget kan ? Ibu nyubit-nyubitin hidung Aku dengan tatapan
takut kehilangan waktu Ibu maksa keluar rumah, padahal kondisi Ibu sudah
linglung banget. Ibu inget kan ? Ibu ga berhenti-hentinya ngelihatin Aku waktu Aku
lagi bacain Ibu Surat Yasin. Ibu maafin Aku, maafin Aku yang ga cepat tanggap
dengan kondisi Ibu. Maafin Aku yang masih bentak Ibu saat 3 hari sebelum Ibu
pergi. Maafin Aku yang masih sering nyakitin hati Ibu. Maafin Aku Bu.
Bu,
minggu depan tepat 2 tahun Ibu pergi ninggalin Aku. Tapi demi Allah, hati Aku
belum Ikhlas Bu. Aku benar-benar ga sanggup tanpa Ibu. Aku nyesel kenapa waktu
Ibu ga ada, Aku malah berusaha kuat padahal hati Aku sakit banget Bu. Aku cuma
bisa Istighfar dalam hati untuk menahan tetes demi tetes air mata yang akan
mengalir. Bu, malam ini Aku kembali nangis lagi. Pusing rasanya Bu kalau
air mata ini mengalir dengan derasnya. Tapi demi Allah, Aku memang kangen Ibu
dan Aku ga bisa tanpa Ibu. Bu, Aku mau KKN. Biasanya kan Ibu selalu ikut ke
Semarang terus bantu-bantuin Aku nyiapin barang, bikinin Teh Manis atau Energen
dan nyuapin Aku makan. Bu, biasanya kan Ibu selalu bobo sama Aku. Terakhir ke
Semarang pun, tepat 30 hari kan Bu ? Tapi ternyata itu adalah yang terakhir. Aku
inget, waktu Aku mau ngurus KRS di Semarang, Ibu minta ikut. Tapi Aku ga kasih,
karena Aku fikir, Aku hanya sebentar di Semarang. Padahal saat itu Ibu memaksa
dan mungkin itu bisa jadi permintaan terkahir Ibu untuk bersama Aku di
Semarang. Bu, Aku bener-bener kangen Ibu. Rasanya pengen buka makam Ibu dan
meluk Ibu lagi, pengen cium ibu lagi. Aku kangen Bu, Aku kangen banget. Aku
pengen ketemu Ibu. Aku ga sanggup tanpa Ibu, engga Bu, benar-benar ga sanggup.
Bu, Aku mohon, ayoo datang ke mimpi Aku. Aku mau lihat Ibu lagi, Aku mau
bercanda-canda sama Ibu lagi. Aku mau cium dan ledek-ledekin Ibu lagi. Aku
kangen Bu, Aku kangen banget sama Ibu. Tadi, Aku telpon Ayah. Ayah sepertinya
tahu ya Bu, kalau Aku habis nangis. Ayah nanya, "Ada yang mau kamu
ceritain?". Tapi Aku bilang ga ada dan selalu itu yang Aku bilang kalau
Ayah sudah mulai curiga bahwa Aku habis nangis mikirin Ibu. Aku ga mau buat
Ayah sedih, Aku ga mau Ayah jadi terbebani juga. Bu, Aku kangen. Cuma itu yang
bisa Aku bilang, Aku kangen semua momen bersama Ibu.
0 comments:
Post a Comment