Ads 468x60px

Saturday, 19 July 2014

Jum'at, 29 Ramadhan 1433 H


Pagi ini adalah tepat tanggal 22 Ramadhan 1435 H dan 7 hari lagi akan menuju 29 Ramadhan 1435 H. Iya 29 Ramadhan, tepat 2 tahun ibu pergi meninggalkanku disini, sendirian. Sendiri dalam kesunyian dan sendiri dalam kekalutan. Aku sekarang memang hanya dengan Ayah tapi kan Ayah di rumah, sedangkan aku disini, di Semarang. Sudah beberapa hari terakhir ini, hampir tiap malam aku kembali menurunkan hujan dari mata hingga membasahi seluruh pipiku. Aku kangen Ibu, kangen banget. Sudah lama rasanya aku tidak menangis dan tidak menulis tentang Ibu. Aku selalu berusaha untuk terus tetap terlihat kuat dan tegar di hadapan mereka, terlebih di hadapan Ayah. Tapi pada kenyataannya ? Aku tak sekuat dan setegar yang mereka lihat. Aku sangat rapuh, sungguh sangat rapuh. 
Bukankah pernah ku ceritakan dalam tulisan sebelumnya, aku berusaha sekuat hati untuk tidak meneteskan air mata ketika memandikan jenazah Ibu, ketika mengafani jenazah Ibu dan ketika ikut melihat prosesi pemakaman Ibu. Iya, aku sama sekali tidak menangis. Hatiku memang menangis. Aku memang menjerit sekeras mungkin tapi hanya dalam hati. Hingga akhirnya ketika pulang memakamkan Ibu, air mata pun akhirnya deras mengalir dan jeritan pun tak henti-hentinya meluap dari mulutku. Sakit rasanya, ketika menahan semua pilu itu di hati. Ingin rasanya saat itu aku keluarkan semua rasa sakitku, tapi aku tak bisa. Bahkan orang-orang yang membantu memandikan dan mengafani Ibu pun heran melihat tingkahku kala itu. Padahal sebelum jenazah Ibu sampai di rumah, tepatnya ketika Bu'de ku mengabarkan kalau Ibu sudah meninggal dan ketika aku yang terus berteriak dan menjerit meminta Ibu untuk bangun kembali di Rumah Sakit, sampai semua orang dalam ruangan, datang ke kamar rawat Ibu hanya untuk mencari sosok yang sedari tadi berteriak histeris meminta Ibu untuk bangun kembali. Saat itu aku sungguh meluapkan semua perasaanku, semua tekanan dalam batinku, semua rasa dan kenyataan pahit yang harus aku terima.
Tepat hari Jum'at, tanggal 29 Ramadhan 1433 H atau 17 Agustus 2012, aku benar-benar harus menerima semua kenyataan yang ada. Aku kehilangan Ibu, kehilangan sebagian nyawaku, kehilangan kunci hidupku, kehilangan sahabat terbaikku dan kehilangan sosok teristimewa dalam hidupku. Waktu aku ulang tahun (11 Agustus 2012), Ibu minta dibelikan Mukenah baru. Tapi sekitar 2 hari setelahnya saat aku mengajak Ibu membeli Mukenah, Ibu ga mau, Ibu bilang "Ga usah deh Ti, udah banyak juga kan Mukenah Ibu, nanti malah ga kepake kalau kebanyakan". Mungkin itu memang feeling ibu, karena akhirnya dia meninggal saat 29 Ramadhan atau H-2 Idul Fitri dan memang pada akhirnya dia tidak memakai Mukenah baru tetapi memakai Kain Kafan yang sampai sekarang menjadi pakaian kekalnya. 
Malam ini, berhubung kosan sudah sangat sepi penghuni karena sudah banyak yang kembali ke daerah asalnya, aku akhirnya kembali menangis dan berteriak histeris. Berharap tidak akan ada yang terganggu dengan jerit tangisanku ini. Ibu, aku kangen banget sama Ibu. Walaupun banyak yang bilang kalau Ibu Insya Allah sudah tenang disana karena meninggal pada hari Jumat di bulan Ramadhan, di tambah ratusan orang yang menyolatkan Ibu, tetapi tetap saja hati aku sampai sekarang belum Ikhlas melepaskan Ibu. Aku kangen Ibu. Kangen bobo bareng sama Ibu, kangen ngobrol sampai pagi sama Ibu, kangen ledek-ledekan sama Ibu, kangen nyubitin Ibu, kangen ngata-nagatain Ibu Jelek, kangen kemana-mana sama Ibu, kangen telponan sama Ibu sampai pagi kalau Aku lagi banyak tugas, kangen curhat apapun sama Ibu, kangen di omelin Ibu, kangen nemenin Ibu cek Lab, Aku kangen Bu, Aku kangen. Selama 2 tahun terakhir ini, Aku selalu terlihat kuat di hadapan Ayah dan keluarga Ibu. Aku cuma ga mau terlihat lemah, seperti yang Ayah sering bilang, kalau Anak Ayah ga boleh nangis, harus kuat, karena menangis juga dapat di anggap lemah oleh orang lain. Aku selama ini hanya berpura-pura kuat tapi hati dan fikiran Aku ga kuat Bu. Ibu bahkan pergi saat Aku ga di samping Ibu, saat Aku sedang mendoakan Ibu di rumah. Ibu inget kan ? Ibu netesin air mata waktu Aku nangis di depan Ibu, walaupun waktu itu kondisi Ibu udah kritis. Ibu inget kan ? Ibu cengkram tangan Aku kenceng banget pas Ibu dalam keadaan setengah sadar. Ibu inget kan ? Ibu masih main-mainin kancing baju Aku waktu Ibu sudah mulai merasa bahwa hanya tangan kanan Ibu yang bisa di gerakkan. Ibu inget kan ? Ibu main-mainin konde rambut Aku waktu Aku imamin Ibu untuk Shalat. Ibu inget kan ? Ibu nyubit-nyubitin hidung Aku dengan tatapan takut kehilangan waktu Ibu maksa keluar rumah, padahal kondisi Ibu sudah linglung banget. Ibu inget kan ? Ibu ga berhenti-hentinya ngelihatin Aku waktu Aku lagi bacain Ibu Surat Yasin. Ibu maafin Aku, maafin Aku yang ga cepat tanggap dengan kondisi Ibu. Maafin Aku yang masih bentak Ibu saat 3 hari sebelum Ibu pergi. Maafin Aku yang masih sering nyakitin hati Ibu. Maafin Aku Bu.
Bu, minggu depan tepat 2 tahun Ibu pergi ninggalin Aku. Tapi demi Allah, hati Aku belum Ikhlas Bu. Aku benar-benar ga sanggup tanpa Ibu. Aku nyesel kenapa waktu Ibu ga ada, Aku malah berusaha kuat padahal hati Aku sakit banget Bu. Aku cuma bisa Istighfar dalam hati untuk menahan tetes demi tetes air mata yang akan mengalir.  Bu, malam ini Aku kembali nangis lagi. Pusing rasanya Bu kalau air mata ini mengalir dengan derasnya. Tapi demi Allah, Aku memang kangen Ibu dan Aku ga bisa tanpa Ibu. Bu, Aku mau KKN. Biasanya kan Ibu selalu ikut ke Semarang terus bantu-bantuin Aku nyiapin barang, bikinin Teh Manis atau Energen dan nyuapin Aku makan. Bu, biasanya kan Ibu selalu bobo sama Aku. Terakhir ke Semarang pun, tepat 30 hari kan Bu ? Tapi ternyata itu adalah yang terakhir. Aku inget, waktu Aku mau ngurus KRS di Semarang, Ibu minta ikut. Tapi Aku ga kasih, karena Aku fikir, Aku hanya sebentar di Semarang. Padahal saat itu Ibu memaksa dan mungkin itu bisa jadi permintaan terkahir Ibu untuk bersama Aku di Semarang. Bu, Aku bener-bener kangen Ibu. Rasanya pengen buka makam Ibu dan meluk Ibu lagi, pengen cium ibu lagi. Aku kangen Bu, Aku kangen banget. Aku pengen ketemu Ibu. Aku ga sanggup tanpa Ibu, engga Bu, benar-benar ga sanggup. Bu, Aku mohon, ayoo datang ke mimpi Aku. Aku mau lihat Ibu lagi, Aku mau bercanda-canda sama Ibu lagi. Aku mau cium dan ledek-ledekin Ibu lagi. Aku kangen Bu, Aku kangen banget sama Ibu. Tadi, Aku telpon Ayah. Ayah sepertinya tahu ya Bu, kalau Aku habis nangis. Ayah nanya, "Ada yang mau kamu ceritain?". Tapi Aku bilang ga ada dan selalu itu yang Aku bilang kalau Ayah sudah mulai curiga bahwa Aku habis nangis mikirin Ibu. Aku ga mau buat Ayah sedih, Aku ga mau Ayah jadi terbebani juga. Bu, Aku kangen. Cuma itu yang bisa Aku bilang, Aku kangen semua momen bersama Ibu.

0 comments:

Post a Comment

Share On: