Ads 468x60px

Saturday, 19 July 2014

Jum'at, 29 Ramadhan 1433 H


Pagi ini adalah tepat tanggal 22 Ramadhan 1435 H dan 7 hari lagi akan menuju 29 Ramadhan 1435 H. Iya 29 Ramadhan, tepat 2 tahun ibu pergi meninggalkanku disini, sendirian. Sendiri dalam kesunyian dan sendiri dalam kekalutan. Aku sekarang memang hanya dengan Ayah tapi kan Ayah di rumah, sedangkan aku disini, di Semarang. Sudah beberapa hari terakhir ini, hampir tiap malam aku kembali menurunkan hujan dari mata hingga membasahi seluruh pipiku. Aku kangen Ibu, kangen banget. Sudah lama rasanya aku tidak menangis dan tidak menulis tentang Ibu. Aku selalu berusaha untuk terus tetap terlihat kuat dan tegar di hadapan mereka, terlebih di hadapan Ayah. Tapi pada kenyataannya ? Aku tak sekuat dan setegar yang mereka lihat. Aku sangat rapuh, sungguh sangat rapuh. 
Bukankah pernah ku ceritakan dalam tulisan sebelumnya, aku berusaha sekuat hati untuk tidak meneteskan air mata ketika memandikan jenazah Ibu, ketika mengafani jenazah Ibu dan ketika ikut melihat prosesi pemakaman Ibu. Iya, aku sama sekali tidak menangis. Hatiku memang menangis. Aku memang menjerit sekeras mungkin tapi hanya dalam hati. Hingga akhirnya ketika pulang memakamkan Ibu, air mata pun akhirnya deras mengalir dan jeritan pun tak henti-hentinya meluap dari mulutku. Sakit rasanya, ketika menahan semua pilu itu di hati. Ingin rasanya saat itu aku keluarkan semua rasa sakitku, tapi aku tak bisa. Bahkan orang-orang yang membantu memandikan dan mengafani Ibu pun heran melihat tingkahku kala itu. Padahal sebelum jenazah Ibu sampai di rumah, tepatnya ketika Bu'de ku mengabarkan kalau Ibu sudah meninggal dan ketika aku yang terus berteriak dan menjerit meminta Ibu untuk bangun kembali di Rumah Sakit, sampai semua orang dalam ruangan, datang ke kamar rawat Ibu hanya untuk mencari sosok yang sedari tadi berteriak histeris meminta Ibu untuk bangun kembali. Saat itu aku sungguh meluapkan semua perasaanku, semua tekanan dalam batinku, semua rasa dan kenyataan pahit yang harus aku terima.
Tepat hari Jum'at, tanggal 29 Ramadhan 1433 H atau 17 Agustus 2012, aku benar-benar harus menerima semua kenyataan yang ada. Aku kehilangan Ibu, kehilangan sebagian nyawaku, kehilangan kunci hidupku, kehilangan sahabat terbaikku dan kehilangan sosok teristimewa dalam hidupku. Waktu aku ulang tahun (11 Agustus 2012), Ibu minta dibelikan Mukenah baru. Tapi sekitar 2 hari setelahnya saat aku mengajak Ibu membeli Mukenah, Ibu ga mau, Ibu bilang "Ga usah deh Ti, udah banyak juga kan Mukenah Ibu, nanti malah ga kepake kalau kebanyakan". Mungkin itu memang feeling ibu, karena akhirnya dia meninggal saat 29 Ramadhan atau H-2 Idul Fitri dan memang pada akhirnya dia tidak memakai Mukenah baru tetapi memakai Kain Kafan yang sampai sekarang menjadi pakaian kekalnya. 
Malam ini, berhubung kosan sudah sangat sepi penghuni karena sudah banyak yang kembali ke daerah asalnya, aku akhirnya kembali menangis dan berteriak histeris. Berharap tidak akan ada yang terganggu dengan jerit tangisanku ini. Ibu, aku kangen banget sama Ibu. Walaupun banyak yang bilang kalau Ibu Insya Allah sudah tenang disana karena meninggal pada hari Jumat di bulan Ramadhan, di tambah ratusan orang yang menyolatkan Ibu, tetapi tetap saja hati aku sampai sekarang belum Ikhlas melepaskan Ibu. Aku kangen Ibu. Kangen bobo bareng sama Ibu, kangen ngobrol sampai pagi sama Ibu, kangen ledek-ledekan sama Ibu, kangen nyubitin Ibu, kangen ngata-nagatain Ibu Jelek, kangen kemana-mana sama Ibu, kangen telponan sama Ibu sampai pagi kalau Aku lagi banyak tugas, kangen curhat apapun sama Ibu, kangen di omelin Ibu, kangen nemenin Ibu cek Lab, Aku kangen Bu, Aku kangen. Selama 2 tahun terakhir ini, Aku selalu terlihat kuat di hadapan Ayah dan keluarga Ibu. Aku cuma ga mau terlihat lemah, seperti yang Ayah sering bilang, kalau Anak Ayah ga boleh nangis, harus kuat, karena menangis juga dapat di anggap lemah oleh orang lain. Aku selama ini hanya berpura-pura kuat tapi hati dan fikiran Aku ga kuat Bu. Ibu bahkan pergi saat Aku ga di samping Ibu, saat Aku sedang mendoakan Ibu di rumah. Ibu inget kan ? Ibu netesin air mata waktu Aku nangis di depan Ibu, walaupun waktu itu kondisi Ibu udah kritis. Ibu inget kan ? Ibu cengkram tangan Aku kenceng banget pas Ibu dalam keadaan setengah sadar. Ibu inget kan ? Ibu masih main-mainin kancing baju Aku waktu Ibu sudah mulai merasa bahwa hanya tangan kanan Ibu yang bisa di gerakkan. Ibu inget kan ? Ibu main-mainin konde rambut Aku waktu Aku imamin Ibu untuk Shalat. Ibu inget kan ? Ibu nyubit-nyubitin hidung Aku dengan tatapan takut kehilangan waktu Ibu maksa keluar rumah, padahal kondisi Ibu sudah linglung banget. Ibu inget kan ? Ibu ga berhenti-hentinya ngelihatin Aku waktu Aku lagi bacain Ibu Surat Yasin. Ibu maafin Aku, maafin Aku yang ga cepat tanggap dengan kondisi Ibu. Maafin Aku yang masih bentak Ibu saat 3 hari sebelum Ibu pergi. Maafin Aku yang masih sering nyakitin hati Ibu. Maafin Aku Bu.
Bu, minggu depan tepat 2 tahun Ibu pergi ninggalin Aku. Tapi demi Allah, hati Aku belum Ikhlas Bu. Aku benar-benar ga sanggup tanpa Ibu. Aku nyesel kenapa waktu Ibu ga ada, Aku malah berusaha kuat padahal hati Aku sakit banget Bu. Aku cuma bisa Istighfar dalam hati untuk menahan tetes demi tetes air mata yang akan mengalir.  Bu, malam ini Aku kembali nangis lagi. Pusing rasanya Bu kalau air mata ini mengalir dengan derasnya. Tapi demi Allah, Aku memang kangen Ibu dan Aku ga bisa tanpa Ibu. Bu, Aku mau KKN. Biasanya kan Ibu selalu ikut ke Semarang terus bantu-bantuin Aku nyiapin barang, bikinin Teh Manis atau Energen dan nyuapin Aku makan. Bu, biasanya kan Ibu selalu bobo sama Aku. Terakhir ke Semarang pun, tepat 30 hari kan Bu ? Tapi ternyata itu adalah yang terakhir. Aku inget, waktu Aku mau ngurus KRS di Semarang, Ibu minta ikut. Tapi Aku ga kasih, karena Aku fikir, Aku hanya sebentar di Semarang. Padahal saat itu Ibu memaksa dan mungkin itu bisa jadi permintaan terkahir Ibu untuk bersama Aku di Semarang. Bu, Aku bener-bener kangen Ibu. Rasanya pengen buka makam Ibu dan meluk Ibu lagi, pengen cium ibu lagi. Aku kangen Bu, Aku kangen banget. Aku pengen ketemu Ibu. Aku ga sanggup tanpa Ibu, engga Bu, benar-benar ga sanggup. Bu, Aku mohon, ayoo datang ke mimpi Aku. Aku mau lihat Ibu lagi, Aku mau bercanda-canda sama Ibu lagi. Aku mau cium dan ledek-ledekin Ibu lagi. Aku kangen Bu, Aku kangen banget sama Ibu. Tadi, Aku telpon Ayah. Ayah sepertinya tahu ya Bu, kalau Aku habis nangis. Ayah nanya, "Ada yang mau kamu ceritain?". Tapi Aku bilang ga ada dan selalu itu yang Aku bilang kalau Ayah sudah mulai curiga bahwa Aku habis nangis mikirin Ibu. Aku ga mau buat Ayah sedih, Aku ga mau Ayah jadi terbebani juga. Bu, Aku kangen. Cuma itu yang bisa Aku bilang, Aku kangen semua momen bersama Ibu.

Thursday, 17 July 2014

Ya Allah, Selesaikanlah :'(

Bingung deh. Para customer udah mulai riweuh lagi tapi pinjaman dari Bank belum bisa turun.
Pertama, kalau bank M bunganya besar banget (19an%). Kedua, kalau bank B*N bunganya 12,5% tapi ga bisa karena surat rumah atas nama almh ibu. Pihak Bank maunya di balik nama dulu menjadi nama aku atau ayah. Padahal balik nama aja bisa sampai 15juta. Ketiga, kalau bank B*I bunganya 11an% tapi susah karena perkerjaan ayah sifatnya jasa, jadi susah untuk di accept sama Bank.
Karena udah ga ada pilihan lain, akhirnya mau ga mau pinjem ke Bank M. Tapi sumpah sayang banget karena bunganya besar. Kalau emang di izinin sama Allah, mudah-mudahan dari Bank B*I bisa di accept, biar bunganya tidak terlalu besar. Tapi tadi orang Bank M udah ke rumah lagi dan kata ayah mau ga mau, ya bank M. Semoga masalah ini cepat selesai. Walaupun udah ada backing-an polisi (tetangga jalur sebelah) tapi uang juga belum bisa di refund, sedangkan customer udah minta-minta terus.Uang total 37 juta lebih ga sedikit. Sekarang yang bisa aku lakukan adalah mencari pemasukan untuk aku makan dan biaya hidup disini. Dapat 10ribu dari jualan aja udah seneng banget, walaupun ga se-intens dulu.
Awalnya ayah mau pinjam 50juta ke Bank. 20juta dipinjam tetangga depan rumah (si tetangga ikut nyicil pinjaman), 10juta buat bayar kuliah, kos dll dan 20juta buat ganti sebagian ke customer.  Jika pinjam lebih dari itu, berat banget cicilannya. Tapi karena pihak Bank M sampai detik ini belum mencairkan uangnya dan tetanggaku udah ga bisa nunggu lagi, jadi kayanya ayah ga jadi pinjam 50juta. Kalaupun pinjam 30juta, cicilannya juga besar dibandingkan yang awalnya mau patungan dengan tetanggaku itu.
Ya Allah, kenapa masalah ga kunjung selesai ? Masalah keuangan ini belum selesai, sudah ada masalah lagi di bidang pendidikanku. Ya Allah tolong permudah semua ini. Tak ada yang bisa bantu Hamba selain Mu, ya Allah.

Tuesday, 8 July 2014

Maafin Uti, Yah


Siang ini (8 Juli 2014), pihak Bank survey ke rumah terkait pinjaman yang Jumat lalu sudah di apply persyaratannya. Pagi tadi, aku sudah meminta ayah untuk melihat Price List cicilan jika Pinjamannya 50 juta. Awalnya, aku & ayah berniat meminjam hanya 15-20Juta saya. Itu pun untuk membayar keuntungan PO Hp seperti ceritaku sebelumnya sebesar 6,3juta, untuk bayar hutang 2juta ke Bu'le ku karena dulu pinjam untuk bayar kosan, untuk bayar kosan Bulan September, untuk bayar kuliah, bayar KKN dan kebutuhan lain (baca disini). Tadi malam (7 Juli 2014) ketika aku membuka Fb Jualanku dan banyak sekali inbox dari customer yang menyatakan bahwa mereka meminta uang mereka full, bukan hanya keuntungan yang aku peroleh. Padahal uang selain dari keuntunganku memang belum di kembalikan oleh supplierku, seperti ceritaku disini. Ayah sudah setuju untuk mencoba meminjam 50juta untuk mengganti seluruh uang customerku, itu pun jika memang cicilannya tidak terlalu besar. Mengingat memang pekerjaan ayah yang tidak tetap dan pemasukan dari OS aku sedang menurun. 
Sekitar jam 12.30 WIB tadi, ayah menelpon dan memberitahukan bahwa orang Bank sudah datang dan bunga pinjaman adalah 19,xx %. Padadahl sebelum apply, aku & ayah sudah melihat di web Bank tersebut bahwa bunga adalah 14,25%. Akhirnya aku bilang ke ayah untuk jangan meminjam dulu karena bunganya sangat besar, sedangkan di BTN adalah 13,5%. Ayah kemudian memintaku untuk mem-foto info di web Mandiri dan mengirimkan MMS ke pihak survey. Saat ayah belum kunjung mengirimkan nomor Hp orang tersebut, akhirnya aku menelpon ayahku. Mungkin hati aku sudah sangat tertekan, akhirnya aku tumpahkan seluruh beban di hatiku. Aku menangis terisak-isak sambil menelpon ayah, aku meminta maaf dengan ayah, aku sungguh merepotkan dia. Bahkan saat menulis tulisan ini pun, air mata terus membasahi wajahku. Walaupun aku tahu bahwa menangis merupakan hal yang makruh ketika berpuasa, tapi ya sudahlah. Aku sudah sangat tertekan dan kefikiran dengan semua ini. Aku bahkan menangis sambil sulit bicara dengan ayah, aku benar-benar menangis histeris. Sekilas percakapanku dengan ayah :
Aku : (Menangis terisak-isak)
Ayah : "Udah. Udah jangan nangis gitu. Udah. Kamu harus kuat, ga boleh nangis. Usaha gagal itu biasa. Udah jangan nangis terus".
Aku : "Maafin Aku, yah" (sambil terus menangis)
Ayah : "Udah gapapa, sama ayahnya sendiri juga. Udah ga usah nangis. Kamu tuh harus kuat. Nanti kalau memang cicilannya besar banget (jika pinjem 50juta), ayah suruh orang Pisangan buat jual rumah. Jadi rumah ini tetap aman. Mau pasti ko mau mereka jual rumah disana".
Aku : "Maafin Aku, yah jadi ngerepotin ayah begini" (sambil masih menangis)
Ayah : "Engga. Siapa bilang ngerepotin ? Udah sekarang kamu fokus kuliah aja. Udah, ini jangan di fikirin. Nanti kalaupun baru bisa pinjam untuk mengganti uang keuntungan, ya ganti dulu aja uang keuntungannya dan bilang sisanya menyusul. Tunggu dari pihak supplier untuk mengganti. Udah stop, jangan nangis. Fokus aja. Jangan mikirin macem-macem dulu".
Aku : "Ya tapi maaf yah" (sambil masih menangis)
Ayah : "Kamu usaha kan buat ayah, buat kita. Jadi ga usah ngerasa salah begitu. Ayah yang minta maaf karena harus bebanin kamu buat kebutuhan kita. Udah berhenti nangisnya. Kamu harus kuat. Ini cobaan. Yang terpenting sekarang banyak berdoa aja".
Aku : "Iya Aku udah mohon-mohon kesana untuk kembaliin secepatnya yang sisanya itu. Tapi katanya ga bisa karena sedang di proses oleh kuasa hukumnya" (masih terisak)
Ayah : "Ya udah, yang penting terus usaha buat minta kesana. Banyakin shalat dan berdoa juga. Ini cobaan nduk, kamu harus kuat, ga boleh nangis. Kamu lagi UAS juga kan ? Udah sekarang kamu fokus aja. Biar ini ayah yang cari jalan keluarnya. Kalau emang mau jual rumah Pisangan karena emang ga ada jalan lain, ayah bakal nyuruh orang disana buat jual".
Aku : "Iya yah. Maafin Aku ya yah" (masih terisak)
Ayah : "Ya udah sekarang tenangin diri kamu dulu. Udah, berhenti nangisnya. Kuat. Kuat pokoknya. Harus kuat. Anak ayah ga boleh nangis".
Ya kira-kira begitu percakapan aku dan ayah. Aku bukan tipe orang yang bisa cuek dan mengabaikan omongan orang-orang itu. Aku adalah tipe orang yang mudah kefikiran dan sensitif. Tapi kata Dien, sahabatku dari SD, aku harus tebel-tebelin kuping untuk sementara ini karena aku memang sedang UAS, agar aku bisa lebih fokus. Alhamdulillah juga, ada beberapa pembaca blog ku ini yang mengirim inbox dukungannya. Aku berterima kasih sekali kepada semua yang masih "mau" peduli dan mendoakanku. Tadi malam aku sudah melaksanakan Shalat Taubat & Hajat sesuai yang di anjurkan oleh Pak Haji. Bismillah, semoga pihak supplier segera mengembalikan uang-uang itu dan semoga ayah tak perlu pinjam dari Bank karena aku takut kenapa-kenapa ke depannya kalau pinjam dari Bank. Hati kecilku masih ingin pinjam ke saudara saja, tetap dengan jaminan surat rumah. Tapi ayahku ga enak kalau ke saudara-saudaraku karena salah satu faktor memang karena ibu sudah ga ada. Sekedar info, rumah Pisangan itu adalah rumah warisan dari orang tua ayah. Rumahnya memang seperti girik tapi harganya jauh lebih mahal dibanding rumahku sekarang, walaupun rumahku jauh lebih besar dan rapi dibandingkan rumah Pisangan. Soalnya lokasi disana termasuk lokasi mahal, maka rumah kecilpun dapat dihargai mahal. Sekarang rumah itu di tempati oleh kakak, adik dan kakak ipar ayah.
Ya Allah, aku memohon kepadaku dengan segala kerendahan hati dan diriku. Aku mohon bantulah Hamba agar masalah ini cepat selesai dan fokuskanlah fikiranku hanya untuk urusan kuliah ya Allah. Aku merasa otakku semakin sulit berfikir dan mengingat sejak ibu ga ada. Aku tahu, engkau sangat mengetahui apa yang aku rasakan dan fikirkan sekarang. Tak banyak yang dapat aku ungkapkan dalam tulisan ini, aku hanya memohon kepadamu untuk mempermudah dan menyelesaikan masalah ini. Karena aku yakin, tak ada cobaan yang tak ada solusinya. 

*Sekedar Intermezo*
Semalam aku bermimpi, seperti sangat nyata sekali. Om Argo datang ke rumah dan mencari ibu. Ketika aku meceritakan bahwa ibu sudah meninggal, Om Argo tidak percaya. Kemudian terjadilah percakapan antara aku dan Om Argo hingga akhirnya Om Argo memberikan aku uang yang sangat banyak untuk mengganti uang-uang PO Hp dan untuk menebus surat rumah yang sudah di Bank. Jika memang itu terjadi, aku sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Allah. Jika memang hanya mimpi saja, semoga suatu saat bisa menjadi kenyataan dan bukan sekedar bunga tidur. Om Argo itu adalah mantan pacar almh ibuku. Mereka pisah karena berbeda keyakinan (dia orang Bali jadi beragama Hindu) dan karena kakak-kakak ibuku banyak yang tidak menyetujui. Ibu terkadang masih suka bercerita tentang dia. Ibu pun sempat mencari info dia juga tapi susah. Terakhir yang ibu tahu, dia kuliah di Udayana Jurusan Arsitektur.

Thursday, 3 July 2014

Semua Karena Uang (Part 2)


 *Revisi 6 Juli 2014*
To do point aja yaa.
Hari ini (3 Juli 2014) benar-benar super duper pusing. Sisa peninggalan almh ibu yang selama ini di jaga dan di pertahankan sekali akhirnya mau tidak mau harus di gadai juga. 
Total keuntungan ternyata bukan 5jutaan tetapi 6jutaan. Entah gimana ceritanya aku bisa sampai salah hitung begitu. Kondisi kerjaan ayah yang memang juga sedang tak karuan menambah semua tambah pelik. Akhirnya setelah di rundingkan berdua dengan ayah, surat rumah yang selama ini ada di Toko Radio (baca disini) akan ayah ambil dan ayah gadaikan ke Bank. Tadi pun ayah sudah menelpon ke Bank Mandiri untuk menanyakan perihal Pinjaman dengan Jaminan Surat Rumah. Hati kecilku sebenarnya tidak ingin kalau Surat Rumah tersebut di gadaikan ke Bank. Aku pribadi mau nya di gadai ke saudara saja agar lebih aman. Aku sebenarnya mau mencoba minjam ke sepupuku itu lagi tapi dengan jaminan surat rumah. Tapi ayah tidak mau dengan alasan tidak enak karena hutang yang dulu 5juta juga belum di lunasi. Aku benar-benar bingung sekarang. Masalahhnya bukan hanya di surat rumah dan uang ganti rugi dari keuntungan PO HP itu saja. Tapi uang modal PO HP tersebut yang seharusnya di refund Juli mengalami masalah. Pihak supplierku mengaku kalau semua masalah ini sedang di proses oleh kuasa hukumnya. Bahkan tadi pun, aku meminta di refund untuk 5 orang saja, dia tidak bersedia. Waktu aku tanyakan kembali kapan kira2 di refund, dia bilang belum tau karena memang sedang di urus oleh kuasa hukumnya. Jika di total maka untuk seluruhnya (modal+keuntungan) itu adalah sebesar Rp.37.720.000. Ga kebayang kalau akhirnya aku harus mengganti semuanya. Aku berharap sama Allah semoga refund bisa segera di laksanakan oleh supplierku, sehingga aku hanya cukup mengganti sebesar 6jutaan itu dari hasil keuntunganku. Soalnya setelah tadi (6 Juli 2014), aku menginfokan kepada seluruh customer Hp ku bahwa aku baru hanya bisa mengganti keuntungan karena modal belum di kembalikan oleh supplier, tak sedikit dari mereka yang justru tetap memaksa semua di kembalikan. Aku menyadari benar bahwa itu adalah hak mereka, tapi aku juga mohon pengertian dari mereka. Aku bukan orang kaya yang dengan mudah mengembalikan semua uang mereka. Aku juga sudah berusaha terus meminta ke supplierku. Aku juga sudah shalat malam terus, biar semua cepat selesai. Tapi sepertinya mereka tetap tidak mau mengerti dan terus mendesak. Aku sudah menggadaikan surat rumah untuk membayar semua keuntunganku ke mereka, apa mereka masih belum mau mengerti. Aku sudah menawarkan ke mereka, jika tidak sabar menunggu semua modal di kembalikan oleh pusat, aku akan berikan kontak supplierku biar mereka yang meminta sendiri uangnya.
Awalnya aku ragu cerita ke ayah tentang masalah ini, karena memang beliau juga sedang kesulitan keuangan (lagi). Tadi sekitar jam 2 siang, ayah mengajakku diskusi perihal menggadaikan rumah karena memang ayah juga sedang banyak tanggungan. Akhirnya aku bicarakan semuanya dengan ayah dengan perasaan tidak enak dengan ayah. Alhamdulillah ayah tidak marah. Beliau justru bilang, "Oke gapapa kalau begitu. Namanya juga usaha pasti ada jatuhnya. Toh semua itu buat kamu bantuin ayah. Ayah tahu kamu usaha terus buat bantuin ayah, buat ayah & kamu makan, buat kamu beli tiket kereta, buat semuanya. Ayah makasih karena kamu udah bantuin ayah terus. Apalagi di saat ayah lagi ga ada kerjaan begini. Ya kalau akhirnya pahit begini, ini namanya cobaan. Ga usah takut cerita sama ayah karena ga mau bikin ayah nambah fikiran. Justru kalau ga cerita, kamu yang lebih banyak fikiran. Kamu kasarannya di "Teror" terus sama pembeli-pembeli Hp itu, kamu seriusan. Lama-lama urusan kuliah kamu jadi terganggu. Gapapa kita gadai aja. Ganti dulu uang keuntungan kamu ke mereka. Modalnya jujur aja kalau memang belum di kasih sama supplier kamu". 
Ya Allah, mana orderan benar-benar sedang tidak ada. Saldo di rekening juga tinggal 40ribuan. Stress dan bingung banget. Aku sudah bilang ayah, pas minjam uang ke Bank sebaiknya sekalian buat ayah modal usaha. Tapi ayah bingung mau usaha apa. Masalahnya ayah bukan tipe orang yang suka kerja hanya duduk di tempat. Dulu ayah pernah kerja di Toyota dan Securicor tapi ayah ga suka disana soalnya kebanyakan duduk di tempat. Ayah lebih suka kerjaan yang di lapangan. Bahkan waktu ayah pulang jam 3 pagi ke rumah karena memasang radio di Truk-Truk yang mau di berangkatkan dengan Kapal, ayah have fun saja. Walaupun harus keluar masuk kolong Truk dan walaupun harus kotor-kotoran. Tapi ga masalah buat ayah, dia menikmatinya. Aku dari dulu menyarankan agar dia membuka usaha agen JNE/agen pembayaran tiket kereta dll seperti yang ku lakoni kini. Tapi ayah tidak mau, karena pasti kerjaannya hanya duduk di tempat. Lagipula kata ayah, kalau nanti tiba-tiba ayah ada panggilan kan repot juga, masa counter nya di tinggal. Kata ayah kalau ada aku juga sih ga masalah, kalau sendirian dia tidak mau, bored katanya. Aku juga hari ini sangat kecewa dengan ayah. Mengapa tidak ? Aku membaca surat pemberitahuan dari pihak PAM bahwa ayah belum membayar uang PAM sejak 3 bulan lalu dan jika sampai tanggal 19 Juli ini belum di lunasi beserta dendanya, maka PAM akan di cabut. Masya Allah, dimana sih fikiran ayah ? Aku sadar, aku paham bahwa kerjaan ayah itu jasa & jika ada panggilan baru akan ada uang datang. Tapi masa iya, untuk membayar PAM yang per bulan maksimal 50ribu, dia ga bisa bayar. Maaf, aku pun bilang ke ayah, uang listrik sudah aku bayarkan tiap bulan dari hasil orderanku yang aku sisihkan. Masa untuk membayar PAM dia tak bisa ? Padahal beli rokok pun bisa. Coba di hitung, misalkan per hari Rp.10.000, maka sebulan sudah Rp.300.000. Tapi masa untuk membayar PAM yang maksimal 50ribu saja, dia tak bisa. Kecewa banget. Tapi mau gimana, ayah juga memang sedang sering tidak ada kerjaan dan jika tidak ada kerjaan, sama saja tidak ada pemasukan kan ? Dulu waktu ibu masih ada, ibu sangat lihai mengatur keuangan. Sehingga semua pemasukan yang tidak besar pun terasa sangat cukup untuk kami. Tapi sekarang ? Ingin rasanya aku cepat Lulus kuliah dan tinggal di rumah, agar aku bisa mengatur keuangan di rumah. Sekitar 3 minggu lalu, ayah memberikanku uang hasil kerjaannnya sebesar 500ribu dan Alhamdulillah sampai sekarang uang itu masih bersisa 450ribu. Ya memang, aku juga sempat di berikan uang 200ribu oleh tanteku dan ada sisa sedikit dari uang yang juga pernah diberikan om & tanteku. Ayah heran, uang itu masih bisa bertahan kalau aku yang pegang. Aku memang boros, tapi boros untuk makan. Itupun kalau aku lagi ada uang lebih. Jika tidak ada banyak uang, aku menghitung dulu berapa kira2 kebutuhanku dan aku harus mengatur agar itu cukup. Ayah memang sangat royal, jadi cukup susah jika harus mengatur keuangan. Apalagi dia sangat boros untuk rokok, "uang yang dia bakar sia-sia". Dari 3 Juli pun aku sudah meminta bantuan dari "temanku" yang TNI untuk mendatangi alamat si pusat (bukan supplier) untuk meminta agar mereka segera mengembalikan uang modal itu, agar aku juga tenang dan tidak tertekan seperti ini. Tapi dia bilang, dia Insya Allah bisa kesana pas weekend, mudah-mudahan dia berhasil menemukan alamat pusat ya Allah. Tolong bantu dia juga agar masalah ini dapat selesai. Aku sudah hub juga mantanku yang sekarang sudah jadi Polisi untuk ikut membantu tapi belum ada jawaban. Soalnya menurut subreseller lain, waktu dia mau meminta bantuan Polisi, dia justru di mintai uang sebesar 2juta. Masya Allah, sudah tertimpa musibah masa masih di beratkan seperti itu.
Maaf untuk para pembaca blog ku kalau tulisanku ini salah atau terlalu vulgar. Aku menganggap blog ini sebagai diary ku. Aku hanya sekedar bercerita dan mengungkapkan keluh kesahku, karena aku sudah tidak tahu harus bercerita ke siapa. Kadang kalau di rumah, aku sempatkan ke Bu Siti (guru ngajiku) hanya sekedar untuk curhat dan beliau memaklumi kondisiku yang memang pasti bingung mau cerita ke siapa, kecuali Allah. Jika memang dapat dijadikan pelajaran, silahkan di ambil yang baik-baik saja. Aku minta do'anya dari semua pembaca agar masalah ini dapat cepat selesai dengan baik. Aku bingung harus gimana. Aku sudah mumet banget. Semoga uang modal juga cepat di refund oleh supplier agar tanggunganku sisa di keuntungan saja. Aku mohon sekali do'anya dari semua pembaca. Aku mohon ya Allah, bantu hamba menyelesaikan masalah ini. Bantu hamba agar pemasukan hamba dari orderan OS kembali meningkat agar bisa bantu ayah menyicil pembayaran ke Bank. Bantu hamba ya Allah. Aamiin aamiin aamiin aamiin aamiin ya rabbal alaamiin :'(
Share On: