Hello Guys.
Apa kabarnya ? Semoga selalu sehat dan dalam lindungan Allah SWT ya ^_^
Kali ini aku
mau berbagi cerita yang mudah-mudahan bisa menginspirasi kalian. Ya
mudah-mudahan feed back nya bisa membuat kalian lebih menghargai yang namanya
"UANG" dan bisa belajar lebih dewasa dari pengalamanku ini.
Aku adalah
seorang anak tunggal dari keluarga yang biasa saja. Tidak kaya dan tidak pula
kekurangan. Aku hidup sederhana, ya biasa saja. Aku bahkan sekarang hanya
memiliki 1 unit Motor. Sangat berbanding terbalik dengan kehidupan keluarga
almarhumah ibuku dan keluarga ayahku. Kenapa begitu ? Ya, keluarga besar almh
ibu di dominasi oleh keluarga yang bisa di bilang sangat kaya. Bagaimana tidak,
mobil mereka lebih dari 3. Bahkan mereka sering kali berjalan-jalan ke luar
negeri. Ibuku pun pernah cerita kalau kakak-kakaknya dulu sewaktu muda sudah
sering keliling dunia. Tapi lain halnya dengan keluarga ayahku, mereka bisa di
kategorikan tidak mampu. Banyak rumah dari adik dan kakak ayahku yang belum di
keramik, ya masih semenan saja. Bahkan rumah orang tua ayahku yang sekarang di
tinggali oleh kakak ayahku sudah bagaikan rumah mau roboh. Tidak lagi ada
plafon, langit-langit rumah terlihat dan kayunya sudah sangat rapuh. Tapi kalau
rumah itu di jual, harganya bisa 4-5 kali lipat dari harga rumahku. Hal itu
karena lokasi rumah keluarga ayahku yang strategis. Rumahku bisa dibilang cukup
besar. Sampai-sampai tiap aku meminta SKTM tidak pernah di berikan oleh ketua
RT nya dengan alasan rumahku yang besar & kondisi keluarga ibuku yang kalau
sudah kumpul keluarga, mobil bisa penuh 1 gang rumahku, berderet sampai kadang
harus keluar gang. Ya tapi itukan keluarga mereka, bukan keluarga intiku (ayah,
aku dan almh ibu).
Oke, aku
pernah mengalami kehidupan yang bisa dibilang tinggi. Dulu aku selalu belanja 2
minggu sekali sampai 500-700ribu di sebuah pasar swalayan dekat rumah. Itu
ukuran yang cukup tinggi ya karena hanya untuk kami bertiga. Ya apapun yang aku
minta selalu di usahakan untuk di penuhi oleh ayahku. Ayah dan ibuku itu keras.
Walaupun aku anak tunggal, tapi setiap permintaanku tidak pernah langsung di
turuti. Tapi mereka selalu mengusahakannya. Kalau ada, ya di penuhi. Kalau
tidak, ya aku harus bersabar sampai bisa dipenuhi. Dari kecil aku memang tidak
pernah meminta yang macam-macam sama ayah. Waktu SMP saat teman-temanku sudah
pegang Hp, aku belum. Tapi waktu aku juara 3 Olimpiade Fisika di sekolah,
akhirnya ayah membelikanku Hp walau second (hp ponakannya ayah yang dijual
karena mau ganti hp). Awalnya aku gaptek, ga ngerti sama sekali. Tapi pas
coba-coba sendiri akhirnya bisa. Di saat banyak teman-teman yang mengendarai
motor, aku masih menggunakan sepeda untuk bersekolah. Soalnya ayah daridulu
juga tidak mau beli motor dengan alasan lebih nyaman naik angkot, bisa tidur
katanya. Hingga akhirnya ibuku membeli sebuah motor matic hasil tabungannya. Tiap
ada uang, ibu selalu nabung di kakak perempuannya. Tapi yang bantu beliin motor
itu kakak laki-lakinya ibu (sudah alm juga).
Nah, sewaktu
SMA pun aku masih di ajarkan mandiri. Aku di ajak ibu untuk ikut arisan ibu-ibu
dirumah. Seharusnya 300ribu/bulan. Tapi karena aku masih SMA dan uang jajanku
hanya 10ribu/hari, akhirnya aku ikut setengah saja (150ribu/bulan) dan ibu satu
setengah. Yaaaaaaap, namaku sepertinya rezekinya seret (kata ibu) soalnya kalau
pakai namaku dapatnya selalu pas mau akhir. Tiap hari aku tabung uang 5ribu ke
ibu. Atau lebih seringnya aku ga bawa uang jajan, aku bawa bekal saja biar
uangnya bisa ditabung buat arisan. Akhirnya aku pun dapat arisan 1,5juta.
Langsung uangnya aku beliin cincin emas 22 karat seharga 500ribu (2gram).
Sisanya aku beliin ayah sepatu buat badminton dan aku kasih ibu. Ya dari kecil
tiap ada uang, aku selalu beliin ayah atau ibu hadiah. Tiap mereka ulang tahun
pun begitu. Kalau ada saudara yang kasih uang, uangnya aku kasih ke ibu terus.
Waktu kelas 2 SMA aku ingin sekali ganti hp, akhirnya aku ga di kasih jajan
selama 2 bulan oleh ayah, aku hanya membawa bekal saja sebagai gantinya. Jadi,
uang yang ibaratnya uang jajan, aku belikan untuk hp 7210 supernova. Nah waktu
itu ayah lagi butuh hp, akhirnya aku suruh ayah pakai hp ku dan aku beli Hp Imo
yang cuma 350ribu (kalau tidak salah ingat). Ayah itu kalau berantem sama ibu
selalu saja banting hp & akhirnya rusak. Ayah selalu menolak untuk memakai
hp ku. Tapi daripada beli lagi yang mahal, lebih baik aku yang mengalah. Hingga
saat ini pun begitu. Waktu aku mau masuk PTN dan perlu dana cukup besar,
akhirnya ibu menjual emas kesayangannya (dulu dia beli cuma sekitar 1,5juta dan
saat dijual hampir 8x lipatnya) dan menjual motorku (hadiah ultahku yang ke
17). Dan saat ini kehidupanku sedang berada di bawah. Aku stress ?? Iya bisa
jadi. Sejak ibu ga ada, entah kenapa kehidupan financial kami seperti ini.
Mungkin aku terlalu frontal disini, tapi aku hanya ingin berbagi cerita saja.
Sejak 1 Juli 2012 aku memiliki usaha online shop. Hasil dari usaha ini cukup
banyak. Dulu waktu ayah masih rutin mengirimkan uang untuk kebutuhanku di
Semarang, aku pernah mendapat uang kurang lebih 4 juta/bulan. Tapi sekarang aku
sudah tidak dapat menghitung berapa uang hasil jualanku itu. Karena sudah sejak
ibu meninggal, aku membiayai hidupku sendiri. Keuangan ayahku benar-benar
menurun. Ya ayah memang masih mengirimkan uang beberapa kali. Tetapi tidak
rutin. Daridulu ayah selalu mengirimkan uang kalau ada, kalau tidak dikirim
berarti tidak ada uang. Dan sekarang hampir bisa dibilang tidak pernah
dikirim.
Aku termasuk
orang yang royal. Apalagi kalau sedang ada uang. Aku sering traktir temanku
yang sekiranya kurang mampu. Aku juga sering meminjamkan uang ke teman-temanku
yang uang bulanannya belum dikirim. Apalagi untuk urusan makanan, bisa dibilang
aku sangat royal. Kalau males makan keluar, aku sering banget delivery KFC,
HokBen atau tempat makan lain di Tembalang (area kost). Aku juga boros baju
jadi kalau laundry, ga sampai seminggu bisa sampai 8-9kg. Kalau misalnya
selesai kuliah pertama jam 10 dan kuliah lagi jam 1 siang, aku selalu pulang
dan akhirnya keluar ongkosnya double. Aku kalau pulang ke rumah atau balik
Semarang sering banget naik kereta Eksekutif. Bisa di prediksi kan berapa pengeluaranku
tiap bulannya ? Dan semua itu kini aku yang biayai sendiri. Kalau penghasilan
online shop ku sepi, aku bahkan sampai ga makan sampai semingguan atau sampai
uang itu ada kembali. Aku pernah beberapa kali akhirnya minta uang lagi sama
ayah. Dengan kata "maaf" akhirnya aku minta uang ke ayah lagi.
Padahal aku
tau kalau ayah sedang tidak ada uang. Akhirnya dikirimkanlah 150ribu-200ribu.
Untuk bulan ini saja aku hanya dikirimkan 500ribu oleh ayah. Itu juga karena
aku yang minta. Aku dari awal usaha online shop tujuannya 1, yaitu nabung untuk
Haji ibuku. Aku bahkan sudah tanya-tanya ke bank "M" tentang tabungan
haji. Tapi karena syaratnya uangnya harus di freeze (tidak bisa di ambil)
selama 2 tahun, akhirnya aku membuka tabungan reguler untuk mahasiswa. Tapi
ternyata Allah berkehendak lain, ibuku lebih dahulu di panggil sebelum ia
menunaikan Haji. Akhirnya aku pengen banget ganti Hp Nokia Lumia 920 karena Hp
teman-temanku bagus-bagus dan hp canggih merupakan salah satu faktor pendukung
di dunia kuliah. Awalnya sih pengen Samsung Galaxy Ace 2 atau S3 Mini. Tapi
Allah masih berkehendak lain. Aku harus menahan keinginanku karena uang hasil
usahaku harus aku gunakan untuk kebutuhan hidupku disini. Bahkan, kemarin pas
dirumah (tanggal 3 November 2013) ayah untuk kali pertamanya mengucapkan
"Terima Kasih" kepadaku. Karena menurutnya tanpa usahaku mungkin
sekarang aku sudah sangat kesulitan di Semarang. Tiap ayah menawarkan untuk mengirimkan aku uang "sekiranya", aku selalu mengatakan, "Tidak usah yah. Aku masih ada uang ko. Uangnya buat ayah makan saja". Aku tahu akalau ayah juga pasti cuma makan mie aja tiap hari. Jadinya aku tolak tawarannya, walaupun aku juga sedang membutuhkan uang. Jujur, tiap aku pulang ke
rumah, ayah dan aku makan pakai uangku dan ayah pun beli rokok pakai uangku.
Aku sih mikirnya kalau aku bisa bantu ayah, kenapa engga ? Toh uang yang dari
aku kecil hingga sekarang ayah keluarkan, belum sebanding dengan semua uang
yang sudah aku hasilkan dan aku berikan ke ayah. Coba hitung, misalkan per
bulan dengan kehidupanku yang kira-kira 1,5-2,5juta di kali kira-kira 15 bulan
(terhitung sejak ibu meninggal), sudah berapa banyak uang yang aku hasilkan ?
Ya aku tetap bersyukur dengan semua penghasilanku yang setidaknya bisa cukup
untuk memenuhi kebutuhanku disini. Dulu sekitar Februari 2013, aku pernah menghabiskan uang hampir 1juta untuk berobat ke RS karena penyakitku. Tapi hasilnya nihil. Masih kambuh sampai sekarang. Ayah pun ga tau kalau aku ke RS. Semua murni uangku. Deg-degan pas mau bayar, takut uangku ga cukup. Dan benar, hanya 2x ke RS, uangku sudah terkuras banyak. Tapi tak apa, asalkan tidak lagi merepotkan ayah. Ga cuma biaya ke RS. Aku sudah sering ke klinik dekat kostan. Sudah tak terhitung berapa kali kesana. Karena memang tubuhku "ringkih".
Pekerjaan
ayahku adalah wiraswasta Tekhnisi Radio Komunikasi. Mungkin kalian pernah
melihat Argo Taxi (seperti radio yang memunculkan tarif di radio), Radio
Komunkasi di Taksi atau bahkan Tower Pemancar Radio Taksi ? Nah itulah yang
ayahku kerjakan. Sekarang usahanya sedang sepi sekali karena beberapa taksi
sekarang menggunakan sistem Chip, bukan radio taksi lagi. Oh iya sudah sejak
Januari 2012 setiap ayah ada kerjaan untuk memasang Argo dan Taksi di luar
kota, ayah jadi menjaminkan surat xx ku di toko tempat ayah mengambil radio dan
argo tersebut. Memang pemilik tokonya sudah kenal ayah sejak ayah lulus STM.
Tapi menjaminkan surat tsb menurutku bahaya juga. Awalnya waktu masih ada ibu,
ayah telat izinnya dengan ibu. Padahal surat itu a.n ibu karena memang ibu yang
beli. Biasanya memang hanya 2-3bulan ayah bisa melunasi uang itu. Karena
pembayaran dari pihak Taksi terkait cukup cepat. Tapi saat ini sudah hampir
8bulan, surat tsb masih di toko. Karena pembayaran dari pihak Taksi yang aku
ketahui ternyata di Kalimantan atau NTB (aku agak lupa) sangat lama. Akhirnya
satu per satu peninggalan ibu pun ikut tergadai. Cincin ibu yang ada 3 serta
liontin Ka'bah asli emas Dubai ikut tergadai. Bahkan waktu Oktober lalu aku
harus menbayar uang kost sebesar 2,1juta (per 3 bulan), akhirnya patungan
bertiga dengan tanteku. Tanteku 1 juta, aku 600ribu dan ayah 500ribu. Hingga
saat ini pun aku masih belum membayar ke tanteku. Subhanallah, itu yang aku ucapkan
ketika ayah menujukkan 2 perhiasan yang ia temukan di lemari ibu. Ayah ga bisa
bedain emas asli & imitasi, jadi dia selalu tanya kepadaku dulu. Dan
Subhanallah itu asli. Padahal selama ini aku sendiri ga tau kalau masih ada
emas itu. Padahal cuma aku yang tau dimana emas-emas ibu. Memang, keuangan
dirumah biasanya aku dan ibu yang handle. Kalau ayah dapat uang banyak pun, aku
yang menyimpannya.
Kemarin ayah
meminta izin untuk menggadaikan kedua emas tsb. Tapi aku larang. Aku berfikir
selesaikan satu-satu masalah keuangan. Kalau emas tsb digadaikan juga,
bagaimana melunasi semuanya ? Sedangkan itu adalah peninggalan ibuku. Akhirnya
aku simpan emas itu dan ayah janji ga akan usik emas itu tanpa seizinku.
Tadinya ayah memintaku untuk mebawa emas tsb ke Semarang, tapi aku tdak tega
dengan ayah. Akhirnya hanya aku simpan di suatu tempat. Kemarinpun ayah bertanya
dimana tempatnya dan akhirnya aku beritahu dengan catatan, jangan usik emas tsb
tanpa seizinku dan ayah menyetujui. Maaf, bukan bermaksud penjadi penguasa
sedangkan aku hanya seorang anaknya. Tapi ini lebih karena aku ingin menjaga
semua penginggalan ibuku dan menjaga keuangan kita. Waktu aku mau balik
Semarang pun, akhirnya aku memberikan ayah sedikit uang untuk pegangan dia.
Karena aku tau, ayah sering ga makan kalau ga ada uang. Aku pun begitu. Kalau
ga ada uang, aku harus berjalan kaki dari kampus sampai kost. Sedangkan jarak
fakultasku ke kostan ku cukup jauh dan jalannya naik turun. Cape memang,
apalagi Semarang panas. Ya alhasil bajuku basah semua dan aku jadi boros baju.
Aku juga pernah ga makan berhari-hari, hanya banyak minum air putih untuk
menahan lapar. Tapi aku berusaha untuk tidak meminta bantuan orang lain. Karena
aku fikir, kita sama-sama perantau. Ga enak kalau merepotkan. Ya tapi inilah hidup. Ga selalu di atas.
Kalau dihitung
sepertinya aku sudah bisa membeli Ipad dan Hp impianku. Mungkin juga bisa untuk
cicil motor. Tapi apa daya. Mungkin belum saatnya. Hampir tiap malam aku
searching Hp Lumia 920 second di Kaskus. Ya hanya sekedar lihat-lihat saja.
Berharap suatu saat keuangan ayahku membaik dan aku bisa membeli hp itu. Ayah
pernah hampir nangis pas ayah melihatku sedang lihat-lihat hp di laptop. Ayah
bilang, kalau ayah kasih uangku rutin, mungkin aku sudah bisa beli yang aku
mau. Bahkan sekarang sebenarnya LCD laptopku rusak. Untuk menulis cerita inipun
aku agak kesulitan. Karena layar laptoku abu-abu gitu. Ga jelas tulisannya.
Ayah belum ada uang untuk membenarkannya dan uangku pun fluktuasi. Kadang ada
dan kadang engga. Jadi aku tidak bisa menabung untuk ganti LCD laptop. Kalau
tidak salah harga LCD sekitar 900ribu. Aku waktu itu sudah ada uang sampai
500ribu. Tapi aku tahan untuk ganti LCD. Aku lebih mengedepankan biaya hidupku
disini. Aku juga sering ingin ganti tas. Sebenarnya aku ada uang untuk ganti
tas. Tapi lagi-lagi aku harus pakai skala prioritas. Bahkan ketika aku menulis inipun (6 November 2013), aku hanya punya uang 100ribu. ATM kosong sama sekali. Karena waktu dirumah sudah aku pakai uangku untuk aku dan ayah makan. Aku ga tau sampai kapan aku ada uang lagi. Oleh karenanya harus hemat hemat. Makan dengan nasi sedikit saja biar bayarnya murah :) Ini juga aku tahan tidak makan biar uangku tetap cukup. Walaupun kadang maag ku akhirnya kambuh. Tapi aku sediakan obat maag biar ga mahal ke dokter klinik.
Mudah-mudahan
kedepannya Allah memberikanku rezeki yang melimpah dan pastinya berkah. Karena
kalau tidak berkah, pasti selalu merasa kekurangan. Dan dengan hasil usahaku
sekarang, aku rasa ini berkah. Sedikit tapi aku tetap merasa tercukupi. Untuk
semua teman-teman yang baca, jangan pernah kalian menyalahgunakan uang yang
sudah orangtua kalian berikan. Hargai uang itu dan hargai setiap yang Allah
berikan. Inilah hidup. Roda berputar. Bahkan dengan semua masalah ini, aku jadi
harus lebih dewasa dalam berfikir dan bertindak. Dari semua pelajaran yang
Allah berikan. Entah itu kepergian ibu sampai kebutuhan financial yang seperti
ini, secara tidak langsung mengajarkanku utnuk menjadi lebih dewasa walaupun
aku anak tunggal. Tidak boleh manja dalam menjalani hidup ini. Sepahit apapun itu.
Mudah-mudahan pahitnya hidup ini menjadikan derajat kita meningkat di hadapan
Allah. Pastinya walau kita sedang berada di bawah, jangan pernah melupakan
Allah dan melupakan orang sekitar kita yang leih membutuhkan. Walaupun mungkin
kita sedang kekurangan juga, jangan pernah pelit memberikan uang kita kepada
orang yang lebih tidak mampu dibanding kita. Sekedar berbagi, aku pernah hanya
memiliki uang 6ribu. Sisa 6ribu dan untuk makan. Tapi waktu ada sumbangan untuk
Baksos, akhirnya aku sumbangkan semua uangku dan Alhamdulillah besoknya ayah
mengirimkan 1,2juta. Berapa kali lipat coba dari uang yang aku sumbangkan ?
Tapi ya tetap 1,2juta harus dihemat-hemat sampai ayah kirim lagi. Dan ternyata
kirimannya sangat lambat. Namun Alhamdulillah, uang jualanku setidaknya cukup
untukku disini walau sering juga aku ga ada pemasukan sama sekali dan harus putar otak, bisnis apa lagi biar aku ada uang ?? Oke sekian
ceritaku. Maaf jika terlalu panjang.
Terima Kasih
^_^
0 comments:
Post a Comment