Fuuuuuuh fuuuuuuuuuh fuuuuuuuuh.
Sudah lama tidak mengunjungi blog tercinta, ternyata sudah banyak sekali ya sarang laba-labanya 😂
Well, hallo kalian semua pembaca setia Catatan Peri Hujan. Apa kabarnya nih semua ? Mudah-mudahan selalu dilindungi Allah yaa. Aamiin 😘
Sudah setahun lebih ya ternyata, aku tidak berkunjung cerita disini. Just info, i've graduated from my college and be Bachelor or Science. Yeaaaaaay 😜 (abaikan noraknya saya 😅 aku hanya bahagia karena akhirnya telah menyelesaikan semua kepusingan selama duduk di bangku kuliah 😁
Oke pada kesempatan kali ini tanpa berlama-lama, aku mau curhat lagi nih. Tapi kali ini ga bakal curhat sedih kok. Justru aku mau curhatin seseorang yang selama beberapa bulan terakhir ini, menjadi satu-satunya orang yang selalu ada buatku dan selalu bikin aku heeeeppi (walau kadang-kadang kalau lagi cuek itu sih yang bikin kesel sendiri 😔). Yaaaap terlepas dari sikapnya yang kadang-kadang cuek, so far dia sebenarnya supeeeeeeer romantis. Tapi romantisnya dia GA PAKE KATA-KATA alias GOMBAL. Romantisnya dia itu dari semua PERBUATAN nya ke aku.
Penasaran ga gimana ceritanya aku bisa ketemu manusia yang satu ini ??? 😛
.
Sebut saja namanya "Mr. X". Pada bulan April atau Mei kalau tak salah ingat, ada seorang rekanku sesama petugas Sensus Ekonomi yang mengenalkan aku ke Mr. X (sebut saja nama rekanku itu Anto). Sebenarnya Anto itu suka banget sama aku, tapi mohon maaf aku tidak tertarik padanya karena satu dan lain hal. Akhirnya tiba pada suatu malam, Anto memintaku menemuinya dan tanpa ku ketahui sebelumnya. Anto ternyata mengenalkanku ke Mr. X. Pertemuan pertama dengan Mr. X tak ada yang beda, biasa aja. Cuma si Mr. X ini kaya langit dan bumi dibandingkan Mr. X 🙄
Kesan pertama yang ku lihat dari Mr. X itu, "dia kayaknya baik. Tapi Seperti biasa ketika bertemu orang yang lebih tua dariku, aku selalu cium tangan dan itu pula yang ku lakukan ke Mr. X soalnya dia dan Anto, 4 tahun lebih tua dariku. Setelah cium tangan, aku akhirnya kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, aku berusaha mengingat wajahnya tapi tidak bisa. Maklum aku dan Me. X bertemunya malam-malam dan kondisi pencahayaan di sekitar rumah "palsu" Anto sangat kurang. Beberapa hari kemudian, aku diminta Anto untuk main ke rumah Mr. X dan you know what ?? Saat melihat jelas si Mr. X, jantungku tak henti-hentinya berdegup. Sumpah, this is first time aku ngerasa deg-deg an luar biasa saat bertemu lawan jenis. Aku berusaha untuk tidak memandang wajahnya, apalagi menatap matanya. Perasaanku malam itu tak karuan, sungguh aneh batinku. Kesan kedua yang ku rasa, "dia beda. memang ganteng, tinggi, kulitnya bersih" tapi dia lain. Meskipun mantanku yang lain juga tak kalah manis/ganteng dibanding dia, tapi aku tidak pernah segugup itu sebelumnya. Mr. X benar-benar mengoyak-ngoyal hati dan fikiranku. Just info, sebenarnya aku tidak ingin pacaran lagi. Aku lelah sakit hati dan aku sudah meniatkan jika ada yang mau serius denganku, nikahi aku. Aku pun sempat beberapa kali menanyakan tentang taaruf ke guru ngaji dan rekan KKN ku yang lebih paham mengenai ini. Hingga akhirnya aku bertemu Mr. X dan aku, JATUH CINTA atau mungkin tepatnya JATUH HATI 😍
Sepanjang malam setelah pertemuan kedua dengannya, tak pernah sedikitpun fikiranku berhenti membayangkan wajahnya. Hingga akhirnya aku cerita mengenai ketertarikanku dengan Mr. X kepada Anto. Anto akhirnya menyusun waktu untuk membuatku bisa bertemu dengan Mr. X. Tibalah di bulan Ramadhan & Anto mengajak Mr. X untuk berbuka puasa bersama di rumahku. Ketika melihat Mr. X untuk ketiga kalinya, jantungku lebih tak karuan lagi berdetak. Anto meninggalkanku berdua dengan Mr. X di rumah karena ia ingin membeli nasi dan kemudian sambil berusaha tenang dengan lisan yang gugup, aku menawarkan untuk membuatkan kopi untuk Mr. X. Ia meng "iya" kan sambil melihat ke arahku dan jujur, aku semakin deg deg an. Waktu aku membuatkan kopi racikanku, jantungku terus deg deg an tak menentu. Hingga saat ku suguhkan kopi, aku sama sekali tidak menatapnya dan langsung menaruh kopi di meja serta ku kembali ke dapur dengan perasaan campur aduk. Aku pun membuat mie telor untuk Anto dan Mr. X dengan perasaan kacau.
Saat Anto tiba sedari membeli nasi, kami pun berbuka puasa bersama. Tapi aku sama sekali tidak mau menatap wajah Mr. X. Aku gugup. Aku hanya terus memandang ke arah TV meski hati sebenarnya ingin menatapnya. Beberapa kali dia membuat jokes hingga akhirnya aku menengok ke arahnya dan entah sengaja atau tidak. Setiap aku menengok ke arahnya, dia pun sedang melihat ke arahku juga. Dan itu yang membuat aku makin gugup. Mr. X, "kamu telah berhasil membuat aku gila". Oke setelah makan, bersenda gurau (hanya Anto & Mr. X), mereka berdua pamit. Aku pun membungkuskan mie telor yang berlebih untuk dibawa pulang oleh Mr. X (soalnya dia dapat panggilan disuruh ke Bandara, ngurusin barang. Harapannya mie telor nya buat cemilan dia selama lembur). But, saking geroginya aku sampai lupa memberikan mie telornya dan aku pun meminta Anto untuk kembali ke rumahku. Setelah pertemuan itu, aku semakin dibuat gila oleh perasaan ini.
Hoaaaaaam, sudah malam. Dilanjut besok lagi ya, di part 2. Terima kasih sebelumnya, sudah mampir di tulisanku.
*Edited on 2 Januari 2017*
Mohon maaf, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan cerita ini untuk sementara waktu. Jujur aku juga bingung harus bagaimana sekarang dan bingung apakah dia benar jodohku ??
AKU SANGAT MENCINTAI nya, teramat mencintainya. Aku mencintainya dengan sederhana, tanpa syarat, tanpa alasan dan dengan segala kerendahan diriku. Aku mencintainya dengan SEPENUH HATI ku. Sejak 2010 hatiku sungguh stuck di SANG PENCERAH. Bahkan di cerita-cerita cinta sebelumnya yang aku post, meskipun sudah bersama lelaki lain tapi hatiku masih di sang pencerah. Hingga akhirnya setelah 6 tahun berlalu, aku memberanikan diri untuk membuka hatiku sepenuhnya untuk Mr. X. Aku selalu berdoa semoga dia adalah cinta terakhirku, karena jujur aku sudah lelah untuk berkelana lagi dengan cinta. Aku ingin dia yang terakhir. Aku hanya ingin bersamanya. Tak perduli dalam keadaan susah sekalipun, karena aku sangat mencintainya dan sungguh mencintainya. Tapi aku ga paham, apakah aku juga adalah cintanya dan apakah dia benar tulus mencintaiku ? Kalau dia sering bercanda kepadaku, "kamu pasti bisa gila kalau tanpa aku" dan kini sepertinya itu memang benar adanya.
Ya Allah, aku ga pernah minta yang lebih dari dia, lebih sempurna dari dia. Aku ga pernah minta materi dia. Yang aku butuhkan hanya dirinya. Tidak lebih dari itu.
Saat dia lost control seperti biasa, lalu meminta udahan denganku dan dia datang ke rumahku membawa uang (karena saat itu aku sangat butuh uang dan uang yang dia bawa dianggap sebagai pengganti dari barang-barang yang telah aku berikan padanya), apa aku menerima uangnya ? TIDAK, ya Allah. Maaf bukannya aku sombong, tapi yang aku butuhkan memang hanya kehadirannya, dirinya. Bukan yang lain. Kehadirannya sudah lebih dari cukup dan kehadirannya setidaknya bisa menenangkan fikiranku saat itu. Aku mencintai dia dengan segala kekurangan dan kerendahan diriku ya Allah. Aku selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk dia. Aku selalu berusaha menuruti apapun maunya dia, karena aku tau bahwasannya seorang Makmum harus nurut kepada Imamnya dan aku ingin dia menjadi Imamku ya Allah. Aku selalu sabar menghadapi dirinya yang sering emosional jika dia sedang lelah dengan pekerjaannya. Aku selalu berusaha kuat menerima setiap omongannya yang kadang menyakitkan. Aku selalu berusaha menahan egoisku dan tidak marah padanya agar hubungan kami bisa baik-baik saja. Aku gatau ya Allah, apa aku yang terlalu bodoh atau terlalu cinta dengannya ? Aku selalu percaya dengan semua ucapannya meskipun akhir-akhir ini kepercayaanku berkurang karena dia................ Tapi jujur ya Allah, jika Allah mengizinkan. Aku sungguh ingin bersamanya. Menemaninya dalam kondisi apapun. Baik itu susah maupun senang. Aku hanya membutuhkan dirinya, karena bagiku materi itu bisa di cari asalkan kita mau berusaha. Jadi aku sungguh tak masalah kalau harus susah dengannya. Aku tak pernah menuntut dia untuk berubah, karena aku tau bahwa sifat dasar manusia memang beda-beda dan aku ga berhak merubahnya atau menuntutnya untuk berubah. Dan bukankah itu sebabnya Engkau menciptakan manusia yang berbeda-beda ? Agar kami bisa saling melengkapi. Aku selalu berusaha mencintai orangtua dan keluarganya (meskipun kadang Ibunya agak jutek saat melihatku), karena aku juga ingin keluarganya bisa menjadi keluargaku juga. Aku selalu berusaha tampil baik di depan rekan-rekannya, karena aku tidak mau dia merasa malu dengan segala kekurangan fisikku. Aku selalu berusaha menyenangkan hatinya karena aku ingin hubungan ini selalu baik. Aku selalu berusaha kuat ketika dia mulai berulah, karena aku paham jika kami sama-sama panas, yang ada hubungan kami akan hancur. Aku selalu ada untuknya di saat dia butuh, karena aku memang ingin selalu ada di sampingnya dan membantunya. Aku juga tidak pernah meminta apa-apa darinya meskipun mungkin aku sedang membutuhkan. Buatku dia LEBIH berarti dari materi apapun dan aku mohon, kembalikan dia untukku. Aku hanya ingin dia dan terus bersamanya. Aku ga ngerti ya Allah kenapa sekarang seperti ini ? Dia adalah semangatku untuk bertahan dalam situasiku yang buruk. Dia adalah penenangku. Aku membutuhkan dia ya Allah. Meskipun aku gatau, apa dia masih membutuhkanku atau tidak ? Hidupku sangat tak karuan sejak dia pergi. Aku ga punya semangat lagi sekarang. Aku lemah ya Allah. Hatiku hampa dan bahkan aku sampai sakit karena selalu memikirkan dia. Ya Allah, aku mohon kembalikan dia. Cukup Ibu yang telah yang kau ambil ya Allah. Kunci hidupku mulai terbuka sejak ia hadir dan aku mohon, tetaplah jadikan dia sebagai kunci hati dan hidupku.
*Edited on 2 Januari 2017*
Mohon maaf, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan cerita ini untuk sementara waktu. Jujur aku juga bingung harus bagaimana sekarang dan bingung apakah dia benar jodohku ??
AKU SANGAT MENCINTAI nya, teramat mencintainya. Aku mencintainya dengan sederhana, tanpa syarat, tanpa alasan dan dengan segala kerendahan diriku. Aku mencintainya dengan SEPENUH HATI ku. Sejak 2010 hatiku sungguh stuck di SANG PENCERAH. Bahkan di cerita-cerita cinta sebelumnya yang aku post, meskipun sudah bersama lelaki lain tapi hatiku masih di sang pencerah. Hingga akhirnya setelah 6 tahun berlalu, aku memberanikan diri untuk membuka hatiku sepenuhnya untuk Mr. X. Aku selalu berdoa semoga dia adalah cinta terakhirku, karena jujur aku sudah lelah untuk berkelana lagi dengan cinta. Aku ingin dia yang terakhir. Aku hanya ingin bersamanya. Tak perduli dalam keadaan susah sekalipun, karena aku sangat mencintainya dan sungguh mencintainya. Tapi aku ga paham, apakah aku juga adalah cintanya dan apakah dia benar tulus mencintaiku ? Kalau dia sering bercanda kepadaku, "kamu pasti bisa gila kalau tanpa aku" dan kini sepertinya itu memang benar adanya.
Ya Allah, aku ga pernah minta yang lebih dari dia, lebih sempurna dari dia. Aku ga pernah minta materi dia. Yang aku butuhkan hanya dirinya. Tidak lebih dari itu.
Saat dia lost control seperti biasa, lalu meminta udahan denganku dan dia datang ke rumahku membawa uang (karena saat itu aku sangat butuh uang dan uang yang dia bawa dianggap sebagai pengganti dari barang-barang yang telah aku berikan padanya), apa aku menerima uangnya ? TIDAK, ya Allah. Maaf bukannya aku sombong, tapi yang aku butuhkan memang hanya kehadirannya, dirinya. Bukan yang lain. Kehadirannya sudah lebih dari cukup dan kehadirannya setidaknya bisa menenangkan fikiranku saat itu. Aku mencintai dia dengan segala kekurangan dan kerendahan diriku ya Allah. Aku selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk dia. Aku selalu berusaha menuruti apapun maunya dia, karena aku tau bahwasannya seorang Makmum harus nurut kepada Imamnya dan aku ingin dia menjadi Imamku ya Allah. Aku selalu sabar menghadapi dirinya yang sering emosional jika dia sedang lelah dengan pekerjaannya. Aku selalu berusaha kuat menerima setiap omongannya yang kadang menyakitkan. Aku selalu berusaha menahan egoisku dan tidak marah padanya agar hubungan kami bisa baik-baik saja. Aku gatau ya Allah, apa aku yang terlalu bodoh atau terlalu cinta dengannya ? Aku selalu percaya dengan semua ucapannya meskipun akhir-akhir ini kepercayaanku berkurang karena dia................ Tapi jujur ya Allah, jika Allah mengizinkan. Aku sungguh ingin bersamanya. Menemaninya dalam kondisi apapun. Baik itu susah maupun senang. Aku hanya membutuhkan dirinya, karena bagiku materi itu bisa di cari asalkan kita mau berusaha. Jadi aku sungguh tak masalah kalau harus susah dengannya. Aku tak pernah menuntut dia untuk berubah, karena aku tau bahwa sifat dasar manusia memang beda-beda dan aku ga berhak merubahnya atau menuntutnya untuk berubah. Dan bukankah itu sebabnya Engkau menciptakan manusia yang berbeda-beda ? Agar kami bisa saling melengkapi. Aku selalu berusaha mencintai orangtua dan keluarganya (meskipun kadang Ibunya agak jutek saat melihatku), karena aku juga ingin keluarganya bisa menjadi keluargaku juga. Aku selalu berusaha tampil baik di depan rekan-rekannya, karena aku tidak mau dia merasa malu dengan segala kekurangan fisikku. Aku selalu berusaha menyenangkan hatinya karena aku ingin hubungan ini selalu baik. Aku selalu berusaha kuat ketika dia mulai berulah, karena aku paham jika kami sama-sama panas, yang ada hubungan kami akan hancur. Aku selalu ada untuknya di saat dia butuh, karena aku memang ingin selalu ada di sampingnya dan membantunya. Aku juga tidak pernah meminta apa-apa darinya meskipun mungkin aku sedang membutuhkan. Buatku dia LEBIH berarti dari materi apapun dan aku mohon, kembalikan dia untukku. Aku hanya ingin dia dan terus bersamanya. Aku ga ngerti ya Allah kenapa sekarang seperti ini ? Dia adalah semangatku untuk bertahan dalam situasiku yang buruk. Dia adalah penenangku. Aku membutuhkan dia ya Allah. Meskipun aku gatau, apa dia masih membutuhkanku atau tidak ? Hidupku sangat tak karuan sejak dia pergi. Aku ga punya semangat lagi sekarang. Aku lemah ya Allah. Hatiku hampa dan bahkan aku sampai sakit karena selalu memikirkan dia. Ya Allah, aku mohon kembalikan dia. Cukup Ibu yang telah yang kau ambil ya Allah. Kunci hidupku mulai terbuka sejak ia hadir dan aku mohon, tetaplah jadikan dia sebagai kunci hati dan hidupku.
0 comments:
Post a Comment