Malam ini,
tanggal 11 April 2013. Tepatnya pada pukul 01.40 wib.
Lagi-lagi aku sulit melabuhkan ragaku dalam lelapnya malam. Hatiku
tak karuan. Entah apa yang ku rasakan kini. Aku juga tidak pernah mengerti.
Kemarin, tiba-tiba saja aku sangat merindukan almh ibu. Merindukan si jelek.
Sahabat, teman, musuh dan segala hubungan kami yang sulit ku ungkapkan. Aku ga
ngerti, sampai berapa lama aku terus seperti ini. Aku merasa seperti orang
gila. Aku merasa ini masih menjadi mimpi yang ga akan pernah selesai. Mimpi
yang ga akan pernah bisa berubah. Mimpi yang sebenarnya adalah sebuah
kenyataan. Iya, kenyataan bahwa ia benar sudah tiada. Tapi hatiku terlalu
egois. Masih berfikir ini mimpi. Aku bodoh. Ini sungguh nyata adanya. Tapi aku
masih saja berbicara pada Tuhan dan sekitarku bahwa ini mimpi.
Ibu, iya ibu. Lagi-lagi ia membuatku seperti orang gila.
Teriak-teriak layaknya tong kosong yang menimbulkan suara gaduh. Bahkan malam
kemarin aku sungguh seperti orang gila. Menangis sekeras mungkin hingga dadaku
terasa sesak. Kemudian aku berteriak selayaknya ini rumahku sendiri. Aku tak
peduli apa ada orang lain disini atau tidak. Teriakan yang selama ini aku
tahan. Hanya untuk lebih menghargai mereka. Aku sungguh tak ingin mengganggu
mereka. Apalagi jika aku berteriak dan menangis di malam hari. Tapi aku juga
tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku seperti sudah mati. Mungkin jiwa ini
memang sudah mati. Terkubur oleh jasad ibu. Dan aku tak dapat lagi menemukan
jiwaku sendiri.
Sudah 238 hari ibu meninggalkanku dan ayah sendirian disini. Iya,
di dunia ini. Tapi tetap saja aku masih berfikir ini mimpi. Aku masih berfikir
bahwa ibu sedang pergi ke rumah Bu'le atau Bu'de. Tiap kali aku ingin
menghubungi ibu, aku berfikir mungkin ia sibuk jadi tidak bisa di hubungi
nomornya. Aku bodoh. Sampai seumur hidupku pun, jika aku menghubungi dia, dia tak
akan pernah menjawab. Dia sudah meninggal. Iya sudah meninggal dan tak akan
pernah menjawab teleponku lagi.
Hampir tiap waktu, tiap detik, tiap menit, panggilan keluar dari
handphoneku hanya untuk dia. Di kelas kuliah, di jalan, di kendaraan umum, di
tempat makan, di kamar mandi, di laboratorium, dimanapun, aku selalu
menghubungi dia. Bahkan tak jarang saat dosen mengajarpun, aku masih telponan
dengan dia. Aku bergadang mengerjakan jurnal dan laporan pun di temani telponan
olehnya. Tapi kini semua sudah berbeda. Tak ada lagi teman telponku, tak ada
lagi teman berkelahiku, tak ada lagi kisah indahku. Semuanya sudah terkubur
bersama jasadnya. Kunci kehidupanku juga sudah lenyap. Tak tahu kemana. Sejauh
apapun aku mencari, kunci itu tak akan pernah aku temukan. Mungkin benar, kunci
itu sudah menyatu dengan pasangannya, yaitu ibu. Hingga saat ibu meninggalkanku
selamanya, kunci itu pun akan selalu bersama ibu dan meninggalkanku.
Sering aku berfikir, aku ingin mati. Aku ingin menyusulnya. Tapi
amalku masih sedikit, berbeda jauh dengannya. Mana mungkin aku bisa bertemu
dengannya kalau amalanku sedikit ? Percuma aku mati, toh tidak bisa bertemu
dengannya. Jadi lebih baik, aku perbanyak amalanku. Hingga suatu saat aku pergi
meninggalkan dunia ini, aku dapat bertemu dengannya kembali. Aku dapat
memeluknya lagi. Aku dapat mencubitnya lagi, memukulnya lagi dan lain
sebagainya.
Dulu, malam pertama ibu meninggal. Aku berfikir, aku ingin kembali
membongkar makam ibu. Aku tak peduli apa kata orang tentang apa yang ku lakukan.
Aku hanya tak bisa tanpa dia. Tak bisa dan tak akan pernah bisa. Aku merasa
sendirian, aku merasa kesepian. Tak ada lagi temanku berbagi banyak hal. Tak
ada lagi teman setiaku. Tak ada lagi orang yang membantu membuatkanku data
pengataman atau analisa bahan ketika aku menulis jurnal sampai pagi. Tak ada
lagi teman untuk bertengkar kecil kemudian kembali saling berpelukan. Tak ada
lagi teman tidurku. Tak ada lagi, tak ada lagi dan tak ada lagi.
Ketika semua orang menghampiriku saat ibu pergi. Aku mungkin
terlihat kuat dan tegar. Tanpa rinai hujan yang mengalir di pipiku. Ketika aku
memandikan jenazah ibu sekaligus mengafaninya, tak ada juga deras hujan di
wajahku. Tapi sesungguhnya hati ini sakit sekali. Ingin rasanya aku menangis.
Aku ingin berteriak sekeras mungkin. Aku ingin protes sama keputusan Allah.
Tapi aku tak bisa. Ayah mendidikku untuk menjadi wanita kuat. Tangisan adalah
salah satu bentuk kelemahan, menurutnya. Oleh karenanya, ketika banyak orang,
aku hanya diam. Walaupun hujan sudah membanjiri hatiku. Saat ibu di makamkan,
aku ingin menangis. Tapi aku tetap menahan tangisanku. Aku mengepal tanganku
sambil terus melafadzkan "Astaghfirullahal'adzim". Aku berusaha kuat.
Aku berusaha menahan tangisanku. Karena disana banyak orang dan aku tak ingin
di anggap lemah oleh mereka.
Tapi setelahnya aku menyesal. Kenapa aku harus berpura kuat
layaknya karang. Tapi hati ini sebenarnya sudah sangat rapuh. Andai aku dapat
memutar waktu, aku ingin menahan semua orang untuk memasukkan jenazah ibu ke
liang lahat. Aku tak ingin jasadnya di kubur dalam tanah. Karena dengan begitu,
aku tak dapat lagi melihat wajah cantiknya. Ingin rasanya aku menahan semua
orang untuk mulai memasukkan gumpalan tanah ke liang lahat. Aku takut. Aku
sungguh tak kuasa melihat momen itu. Aku ga mau kehilangam ibu. Aku ga mampu
untuk hidup tanpa dirinya. Aku ingin sekali membuka kembali kain kafan ibu, Aku
ingin menciumnya. Aku ingin memeluknya. Dan tak akan aku lepaskan dia. Tak akan
aku biarkan mereka mengubur ibu. Bahkan bila perlu, ku awetkan saja jasadnya.
Biar aku masih bisa merengkuhnya, membelai wajahnya, menciumnya. Biar saja
orang berkata aku "GILA". Aku tak peduli. Yang ku inginkan hanya ibu
disini.
Aku, iya aku. Aku terlahir sebagai anak tunggal. Anak tunggal yang
di didik untuk bisa terus mandiri dan kuat. Jauh dari kebanyakan anak tunggal
lainnya. Aku. Seorang anak tunggal yang dapat di pastikan selalu dekat dengan
ibu. Walaupun hubungan kami tidak selalu mulus. Tapi aku berfikir, inilah
hidupku dan hidup ibu. Penuh warna. Warna yang hingga kini menjadi kenanganku.
Tempat kuliahku yang jauh dari rumah, tak pernah menjadi penghalang untuk
kedekatan kami. Bahkan terkakhir di kostku pun, ibu menemaniku disini tepat 30
hari. Dan ternyata itu adalah terkakhir kalinya ibu menemaniku disini.
Malam ini sudah terlalu banyak hujan yang membanjiri wajah dan
hatiku. Aku tak tahu lagi harus menulis apa. Tapi jika Allah mengizinkan, aku
sangat ingin bertemu dengan ibu. Apapun bentuknya nanti. Aku tetap tak peduli
orang menganggapku berlebihan jika membaca ini. Tapi ketahuilah, bayangkan jika
kalian di posisiku. Tempatkan diri kalian setulus mungkin hingga benar
merasakan posisiku. Aku lelah di anggap berlebihan dengan semua ini. Tapi
biarlah, inilah aku yang terus mengukir cerita tentang ibu. Satu hal, "AKU
TAK BISA HIDUP TANPA IBU".
0 comments:
Post a Comment